4 Kota Romantis di Benua Eropa

22:02 Globe and Bag 0 Comments



Eropa tidak ada habisnya untuk dieksplor oleh mereka yang mengaku sebagai pemuja cinta, setiap belokkannya selalu menarik untuk didatangi tak perduli apapun musimnya. Mulai dari menikmati gelato di desa Vernazza, berceloteh ringan sambil berpegangan tangan di Dubrovnik sampai menikmati hidangan laut dengan panorama kastil Le Mont St Michel dalam temaram cahaya lilin.
Sungguh sepertinya Sang Pencipta sangat menganugerahi banyak cinta untuk benua empat musim ini.


CINQUE TERRE - ITALIA
Cinque Terre dalam bahasa Italia jika diterjemahkan berarti 5 desa, desa-desa ini menjulur dari utara ke selatan yang meliputi Monterosso. Vernazza, Corniglia, Manarola, Riomaggiore. Cinque Terre kerap mengisi daftar yang dibuat manusia dengan judul fantastis, sebut saja: 7 kota warna warni paling cantik di dunia, 12 pemandangan paling ajaib di dunia, 5 desa terindah di pesisir pantai, dan banyak lagi, apapun kriteria nya sepertinya Cinque Terre selalu ada termasuk di dalam daftar nya.

Desa pertama yang saya datangi adalah desa yang terletak paling utara yaitu Monterosso, senang rasanya bisa kembali menghirup asinnya udara laut. Monterosso memiliki pantai berpasir dan walaupun pada musim gugur air di laut tampaknya masih hangat karena saya melihat beberapa orang masih berenang disana. Saya memilih untuk menyusuri pinggir pantai sambil memperhatikan deretan kedai kopi kecil yang homey, harum kopi yang diseduh seperti memanggil saya masuk ke dalamnya, saya pun tak dapat menolak untuk tidak memesan secangkir cappuccino dan sepotong roti focaccia, lalu menikmatinya di teras kedai kopi yang memiliki pemandangan ke laut lepas.
Menyusuri Monterosso dengan berjalan kaki di atas footpath yang telah disediakan akan menujukan Anda ke desa berikutnya, Vernazza. Di desa inilah tumpukkan rumah warna warni di atas karang berada, selangkah lagi saya menuju perwujudan mimpi yang selama ini ada di bucket list saya. Well, ternyata kenyataannya bukan selangkah, namun beribu langkah, karena faktanya untuk menuju dan menikmati bangunan rumah warna warni itu saya harus menanjak ke atas bukit yang lebih tinggi. Untungnya saat itu di awal musim gugur sehingga udara lumayan bersahabat, entah apa jadinya jika pada saat musim panas.
Saya mengatur baik-baik nafas juga langkah saya ketika menanjak, jika ada orang yang lewat dari berlawanan arah, salah satu harus mengalah dan menepi.
Peluh keringat dan pegalnya betis terbayar dengan panorama yang entah bagaimana harus saya deskripsikan, untuk beberapa menit saya seperti terhipnotis, karang terjal yang dikikir dijadikan tempat tinggal oleh manusia yang memiliki daya seni tinggi, setiap bangunan rumah mereka cat dengan warna kuning, merah, biru, hijau, dikelilingi oleh hijaunya ladang yang ditanami tanaman anggur dan biru nya laut Mediterania. My dream has been accomplished.



Di antara ke 5 desa di Cinque Terre, yang pastinya menarik perhatian para pencinta romantisme adalah desa Manarola dan Riomaggiore karena di antara kedua desa terdapat La Via de’ll Amore (lovers pathway) dimana sepanjang jembatan penghubung dipenuhi dengan digantungnya gembok yang tertulis nama pasangan dan kunci nya dilempar ke laut sebagai tanda cinta sejati, mirip dengan jembatan cinta Ponts des Arts di Paris.
Konon La Via de’ll Amore ini dibuat untuk menghubungan para pasangan yang tinggal di 2 desa yaitu Manarola dan Riomaggiore, ketika jembatan ini selesai dibuat, para pasangan pun berbahagia karena memudahkan mereka untuk saling berjumpa.

PAPHOS - SIPRUS
Paphos atau yang juga disebut Pafos layaknya permata negara Siprus, salah satu pulau terbesar di Mediterania yang kaya akan sejarah dan budaya, diyakini sebagai tempat lahirnya Dewi Cinta bangsa Yunani, Aphrodite. Paphos bangga memiliki sisa-sisa istana, benteng, amphitheater, makam raja-raja milik periode Klasik, Helenistik dan Romawi.
Paphos sempat menjadi ibukota Siprus sewaktu dikuasai bangsa Romawi dan menjadi tempat kedudukan prokonsul, serta mendapat kepercayaan untuk mencetak koin tembaga. Kota ini juga hancur oleh gempa bumi yang terjadi tahun 15 SM.
Dan dari sisi cerita legenda, Paphos dipercaya merupakan tempat lahir dan rumah bagi dewi Aphrodite si dewi cinta, kecantikkan, dan sensualitas.
Aphrodite dideskripsikan sebagai wanita cantik dan memiliki banyak kekasih. Legenda bagaimana Aphrodite lahir ada berbagai versi, versi pertama disebutkan bahwa Aphrodite adalah anak dari Zeus, raja dari segala dewa yang juga menguasai langit dan petir, sayangnya versi ini kalah tenar dengan versi lainnya yang menyebutkan bahwa Aphrodite dilahirkan dari alat kelamin Uranus yang dipotong oleh Titan Kronos dan dilemparkan ke laut. Alat kelamin itu ditutupi oleh buih laut ( aphros ) dan dari buih-buih itulah Aphrodite dalam wujud wanita dewasa muncul. Dengan bantuan cangkang kerang menibakan Aphrodite di darat pada wilayah selatan Paphos - Petra tou Romiou. Area ini menjadi salah satu spot paling favorit para wisatawan yang berada di Paphos.

Hari itu ketika saya berada di atas tebing untuk melihat Aphrodite's rock, saya dianugerahi udara pagi yang menyenangkan, angin yang sejuk, matahari yang benderang, kontras dengan warna laut yang terlihat seperti memiliki 50 shades of blue, reflek saya mengabadikan panorama di depan muka ini, entah berapa kali tombol shutter saya tekan.

Petra tou Romiou memang memukau, tak perduli sejarah perselingkuhan yang dilakukan Aphrodite, rasanya siapapun yang berada disana akan mendadak merasa jatuh cinta.




LE MONT ST MICHEL - PRANCIS
Prancis tak selalu haruslah Paris walaupun Paris nyatanya identik dengan Prancis, Paris has quite a haughty sense of self-importance, still you cant help but love it. Sebagai salah satu negara terbesar di Eropa, memang sulit menentukan pilihan harus mulai darimanakah mengeksplor negara yang satu ini, bagi sebagian wisatawan yang memiliki waktu terbatas, berada hanya di Paris tidak bisa mendeskripsikan betapa ragamnya estetika keindahan yang ditawarkan oleh negara asal Napoleon Bonaparte ini.

Transportasi untuk mengunjungi Prancis dari utara ke selatan dan timur ke barat bukan penghalang, kereta nasional dan low cost airlines siap mengakomodir para wisatawan, atau dengan sewa mobil bisa juga dijadikan solusi, kontur jalanan baik itu jalan-jalan di pedesaan, di atas pegunungan dan jalan tol nyaris sempurna dan tanpa lubang. Belum lagi pemandangan sepanjang jalan yang 'almost heaven', sebelah kiri kanan mata memandang hanyalah hektaran kebun anggur, kebun bunga matahari sampai dengan kebun rapeseed yang menguning dengan indahnya atau ladang ungu Lavender.
Sebagai destinasi ungggulan negara Prancis, tiap tahunnya Le Mont St Michel ramai dikunjungi bukan saja wisatawan luar Prancis, tapi penduduk lokal dari propinsi-propinsi lainnya kerap mendatangi cagar budaya Internasional ini.
Le Mont Saint Michel adalah sebuah daerah di Normandi, berbatasan dengan Bretagne dimana yang menjadi tujuan utama para wisatawan adalah pulau kecil yang dikikis dari karang raksasa dimana terletak gereja dan monastery. Letak lokasi yang hampir menyerupai Tanah Lot di Bali memang unik punya, sebagian bangunannya berada di antara pinggir lautan dan daratan.



Dari desa dengan jarak kurang lebih 5 kilometer sebelum tiba di Le Mont St Michel, telah terlihat dari kejauhan sosok bangunan menyerupai kastil yang megah, ditambah lagi suasana pagi itu yang masih berkabut di kejauhan semakin tampak terlihat lebih mistik lagi. Nampak sesekali kawanan sapi dan petani yang sibuk bekerja di ladang tak jauh dari Le Mont St Michel.
Jalanan luas beraspal sengaja dibangun untuk menghubungkan Le Mont dengan daratan terdekat demi memudahkan kunjungan wisatawan, sesampainya di pintu masuk utama akan dijumpai papan pengumuman yang terpampang pada setiap harinya mengenai informasi kapan waktu untuk meninggalkan Mont St Michel, dimana di waktu tersebutlah air akan diperkirakan pasang atau naik ke daratan, dan jika air telah pasang, maka mau tak mau kita tak bisa meninggalkan tempat tersebut. Pada ketibaan saya di tempat tersebut, saya membaca bahwa para pengunjung yang sedianya hanya melakukan tour setengah hari kiranya dianjurkan untuk meninggalkan Le Mont pada pukul jam 4 sore.

Untuk menuju sampai di gereja Mont Saint Michel, para pengunjung harus melewati kota tuanya terlebih dahulu, kontur jalan kecil sempit yang menanjak dengan gang yang berkelok-kelok terasa begitu misterius ditambah lagi saat saya berada disana, gerimis hujan tidak berhenti sebentarpun. Di balik gagahnya dinding-dingin tinggi yang tebal itu, ternyata kota kecil ini sangatlah cozy dan menyenangkan, deretan resto yang menawarkan menu khas Prancis, toko suvenir yang banyak menjual cenderamata khas Le Mont St Michel seperti tas kain bergambar bangunan ciri Le Mont, magnet kulkas, beragam kartu pos, lukisan-lukisan pop art yang sangat unik sampai dengan pedang-pedangan dan kostum tentara pada abad pertengahan. Sebagai pencinta seni vintage, sungguh saya sangat dimanjakan berada di kota mungil ini. Belum lagi beragam tampilan papan nama dari toko dan resto tersebut yang dibuat tergantung dengan gambar dan tulisan warna warni.



DUBROVNIK - KROASIA
Keindahan Dubrovnik bukan isapan jempol, kota tua yang dikelilingi benteng ini lebih asyik dinikmati dengan berjalan kaki. Tahun 1979, Wall of Dubrovnik dinobatkan menjadi salah satu situs bersejarah UNESCO dan hingga kini menjadi objek foto favorit para wisatawan.

Kota pelabuhan yang terletak di negara Kroasia ini memang begitu mempesona dan sudah pasti sangat romantis. Setiap harinya disinggahi puluhan kapal pesiar besar dan menjadi rute favorit perusahaan kapal pesiar dunia.
Banyak walking tour yang tersedia di alun alun, biasanya dimulai pada pukul 10 pagi selama 2 jam. Bersama dengan wisatawan lainnya, tur semacam ini akan didampingi oleh pemandu yang berpengalaman. Tur ini dimulai dari air mancur Onofrio, yang selama berabad-abad membawa air minum ke kota, lalu menuju Jalan Prijeko menuju pelabuhan tua, yang adalah kunci perdagangan dan kesuksesan maritim Dubrovnik.



Dubrovnik memiliki ratusan rumah makan, kedai kopi, toko roti sampai dengan toko penjual gelato siap menyambut kedatangan para pelancong yang berada di Dubrovnik, khususnya di dalam kota tua, terlebih saat musim semi, musim panas dan awal musim gugur dimana cuaca yang hangat sangat memungkinkan untuk beraktifitas di luar ruangan.
Pemilik usaha masing-masing menampilkan meja terbaik yang dimilikinya dengan tatanan seindah mungkin menarik perhatian tamu, potongan bunga segar dalam vas, taplak berwarna warni sesuai tema resto nya, sampai dengan lilin atau obor sebagai penerangan saat malam tiba.

Tangga jalanan pun ketika sore disulap menjadi tempat kongkow yang mengasyikkan, hanya bermodalkan bantal keci dengan sarung bantal warna warni sebagai alas duduknya lalu pot-pot berisi bunga bougenville. Secangkir gelas anggur putih dingin menemani nikmatnya buah olive, keju dan sepotong roti. 

0 comments:

Thanks for your comments and love!

Please follow our Facebook Page and Instagram at : @globeandbag
See you there !


/Globe And Bag